Business

"Gunung Agung"Cerita Pilu Ketut Darma 54 Tahun Silam

Foto by admin

Br-Langkan,- "Gunung", sebuah relief dataran bumi yang selalu dihormati oleh masyarakat Bali. Gunung dianggap sebagai simbol suci dan juga keagungan dari yang maha kuasa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sebagai relief bumi yang disucikan, keberadaan gunung tidak pernah terlepas dari adanya tempat suci. Gunung Agung misalnya, sebagai gunung terbesar di Bali, keberadaannya terlihat lengkap dengan adanya Pura Besakih yang terletak di kakinya. Setiap umat Hindu yang datang melakukan puja bhakti ke Pura terbesar di Bali itu, mereka sekaligus dapat menyaksikan betapa megahnya gunung agung.

Disisi lain, Gunung Agung bisa saja murka.  Pada detik-detik tertentu bisa saja ia meluluhlantahkan semua isi perutnya. Masyarakat pun menyerah, tak mampu berbuat banyak. Satu-satunya jalan adalah berdoa kepada yang maha kuasa.
Membicarakan keagungan Gunung Agung, maka tidak pernah lepas dari letusan-letusannya. Seperti dikutip dari Tempo, catatan sejarah Gunung Agung meletus sebanyak 4 kali. Pertama yakni pada tahun 1800, kemudian kembali memuntahkan laharnya berturut-turut pada 1808, 1821, dan 1843. Terakhir kembali meletus pada tahun 1963.  Kini Gunung Agung lagi-lagi membuat masyarakat takut akibat kenaikan status dari waspada menjadi awas pada beberapa hari lalu.

Ketakutan-ketakutan akan meletusnya gunung agung dirasakan hampir oleh seluruh masyarakat Bali, terlebih bagi mereka yang rumahnya hanya berjarak beberapa kilometer dari lokasi gunung. Ketakutan akan meletusnya Gunung Agung turut dirasakan oleh masyarakat di Dusun Langkan, Desa Landih, Kecamatan Bangli. Ketakutan masyarakat jelas sangat berasalan. Mereka sudah berkaca dari sejarah letusan pada 54 tahun silam.
Letusan tahun 1963 itu kini masih bisa ditulis, lantaran beberapa masyarakat yang merasakan masih bisa dijumpai saat ini. Namun, letusan pada tahun-tahun sebelum 63 hampir tidak ada yang bisa digali. Penyebabnya jelas karena sudah tidak ada lagi yang bisa dijumpai saat ini untuk menuturkan kisah sebelum 63. Parahnya lagi, tidak ada sedikitpun catatan sejarah di Dusun Langkan mengenai hal tersebut.

Penuturan kisah-kisah mengenai letusan Gunung Agung pada tahun1963 itu secara jelas saya ketahui dari almarhum kakek, I Wayan Guni. Ia menuturkan, waktu itu tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa gunung tertinggi di Bali itu akan meletus. Wajar saja, waktu itu teknologi belum seperti sekarang. Informasi yang didapat juga sangat minim.

Waktu itu kakek saya, bersama beberapa saudaranya, menyaksikan hujan abu panas dan pasir. Awalnya ia merasa terkejut melihat daun-daun kayu rontok secara tiba-tiba. Baru sadar dengan adanya letusan gunung setelah mendengar berita dari mulut ke mulut.
Setelah kakek pergi untuk selama-lamanya, cerita akan letusan Gunung Agung masih bisa saya gali. Kini saya aktif bertanya kepada saudaranya, I Ketut Darma yang juga kebetulan menjadi tetangga. Ketut Darma adalah kakak dari sang almarhum. Melalui cerita-cerita dari Ketut Darma, saya merasakan betapa pahit getirnya kehidupan masyarakat waktu itu. Terlebih Darma selalu menuturkannya dengan nada begitu pedih. Bahkan air matanya kelihatan berlinang ketika saya menggali ingatan masa remajanya itu.

Penderitaan demi penderitaan akibat letusan gunung agung waktu itu bukan hanya dirasakan ketika masih meletus. Darma menuturkan setidaknya penderitaan masih dirasakan sekitar dua tahun setelahnya. “Mengapa bisa demikian?” tanya saya penasaran. Darma menjawab bahwa setelah letusan gunung, tanah-tanah yang sebelumnya dijadikan sebagai lahan untuk bertani oleh masyarakat tidak lagi bisa d
 “Konyang galang pas to, kayu-kayu sing ade misi don,” kenang Darma.
Baca Cerita Letusan Gunung Agung 1963 Malam Bersambung Dan Hujan Pasir Di Langkan.

Akibat tanah-tanah tidak bisa ditanami dengan apapun, kehidupan masyarakat mulai melarat. Kelaparan terjadi dimana-mana. Akibat kelaparan banyak orang yang mati sia-sia. Darma mengakui dirinya juga ikut merasakan ketika mengalami musibah kelaparan itu. “Men ade keluargane ane ngalain? (Lalu adakah keluarga yang meninggal?)” tanya saya kepadanya. Darma menjawab kalau dirinya merasa beruntung, mengingat tidak ada satupun sanak saudaranya meninggal. Namun, Darma merasakan hidup yang sangat susah ketika itu. Dirinya mengaku berusaha mendapatkan makanan dengan menjual kayu bakar ke Kota Bangli. Satu ikat kayu bakar bisa ditukar dengan satu buah umbi ketela rambat yang besarnya hanya sekepal tangan manusia. Umbi itulah yang dibagi-bagi Darma bersama saudaranya sekitar bertujuh orang.

Selain Darma tentu masih banyak masyarakat Langkan yang bisa menuturkan kisah-kisah getir pasca letusan “yang maha agung” pada tahun 63 silam. Lewat sejarah itu masyarakat Langkan kini juga turut mengalami ketakutan. Beberapa minggu lalu, ketika saya berada di kampung halaman. Ibu saya, I Nyoman Suarni (bukan ibu kandung tapi sudah seperti ibu kandung) berharap agar Gunung Agung tidak meletus. “Yan meletus gununge care pidan, ape ker daar. Ape ker anggon mekelin panak masuk,” tuturnya yang membuat hati saya pilu.

Bisa dibayangkan memang, jika “yang maha agung” kembali memuntahkan laharnya, apalagi sebesar tahun 63. Jelas Dusun Langkan setidaknya akan terkena hujan abu dan pasirnya. Mengingat jarak antara Dusun Langkan dengan Gunung Agung hanya sekitar 15 km. Jikalau itu terjadi, mengungsi mungkin akan menjadi salah satu solusi. Namun yang perlu dipikirkan yakni masyarakat Langkan mungkin tidak akan rela meninggalkan rumah, peliharaannya, bahkan jeruk yang ditanamnya baru beberapa tahun.

Ya begitulah alam. Kita tidak bisa melawannya. Jika ia berkehendak, manusia hanyalah bisa pasrah. Hanya lewat doa kita mencoba berharap.

Penulis,SUI SUADNYANA*
Penulis merupakan warga dusun langkan,
juga seorang mahasiswa yang kini sedang pusing di koyak-koyak skripsi
"Gunung Agung"Cerita Pilu Ketut Darma 54 Tahun Silam "Gunung Agung"Cerita Pilu Ketut Darma 54 Tahun Silam Reviewed by Balibangolnews on 06.42 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Feature Post

Pages

FOOTER WIDGET4

FOOTER WIDGET3

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Education[combine]

Slider[Style1]

Search

Photography

Sports

Fashion[oneright]

Technology[oneleft]

Business[three](3)

Sticky News[hot](3)

Seacrh By Labels

Balibangol

Balibangol

Flickr

Pages

Home Ads